Kali ini, saya mencoba menyampaikan review terhadap buku “Pale Blue Dot Memandang Masa Depan Manusia di Antariksa” oleh Carl Sagan yang kebetulan saya tuntaskan saat isolasi mandiri karena terjangkit COVID-19 Desember 2023 lalu.
Disclaimer, review ini adalah point of view saya sebagai seorang awam.
Pada bab-bab awal buku, Carl Sagan mengingatkan kita dengan bahasa yang evokatif, membangkitkan perasaan uneasy, sekaligus ‘menampar’ bahwa Posisi kita tidak istimewa di alam semesta ini. Setidaknya, itu yang di-capture oleh NASA’s Voyager 1 pada tahun 1970-an, saat ia memotret bumi dari kejauhan di tepi tatasurya.
Bahwasanya alam semesta mungkin tidak secara khusus untuk manusia. Planet Bumi tempat kita bernaung sekarang juga bukanlah pusat dari segalanya, Tata Surya kita juga tidak menempati tempat yang istimewa dalam galaksi, yaitu salah satu lengan spiral galaksi Bima Sakti yang ternyata bukan pusat dari alam semesta. Lebih-lebih, manusia yang baru datang belakangan dalam kalender kosmis. Manusia yang memberikan makna “abcd-z” pada kehidupan ini. Saya tergelitik ada meme dengan gambar Carl Sagan (saya tidak tahu quotes itu dari Sagan atau bukan): Tahun Baru berarti bumi berhasil menyelesaikan satu putaran pada sebuah bintang berukuran sedang yang biasa-biasa saja.
Apa istimewanya?
Di satu sisi saya merasa tidak apa-apa juga sih merasa tahun baru masehi itu istimewa (karena saya juga ingin membuat daftar resolusi Tahun Baru). Di sisi lain, pernyataan itu ada benarnya juga. Sistem perhitungan tahun itu bikinan manusia.
Coba kita terbang menjauh dan melihat seluruh konflik umat manusia, kita akan mengapung-apung dari atas sana : “Buat Apa Sih?” Kita hanya tinggal di sebuah titik pucat biru bernama “Bumi”. Kata suami saya, manusia tinggal di bumi dan di dalam atmosfer-nya seperti tinggal di aquarium bersama.
Manusia belum menemukan kehidupan lain di luar bumi, fakta ini sama-sama menyeramkan : kita sendiri di tengah kehampaan yang masif ini, atau ternyata terdapat kehidupan di luar sana dan kita tidak mengetahuinya.
Karena bumi satu-satunya tempat hidup kita, kita kayak harus tanggung jawab atas keberlangsungannya. Demi umat manusia sendiri. Toh, bumi bertahun-tahun tidak dihuni manusia juga sebetulnya tidak apa-apa. Akan tetapi, apakah sampai nanti bumi bisa menjadi tempat ideal bagi manusia?
Nah ini juga argumen kita sebagai eksplorer.
Pada bab-bab di pertengahan, buku seperti mengungkap fakta tentang planet-planet dan benda langit dan argumen mengapa mempelajari planet lain menjadi penting karena kita ada dalam hukum fisika yang sama. Kayak misalnya Greenhouse Effect atau Efek Rumah Kaca, untuk perbandingan. Nah ini yang seru, adanya pembahasan mengenai lubang ozon dan CFC. Sekarang ozon sdh pulih.
Ada juga cerita tentang pendaratan ke bulan yang bernuansa politis, termasuk pembiayaan ke luar angkasa dan permasalahan bumi saat ini yang juga butuh biaya besar.
Akhir buku adalah bagian yang seru karena Sagan menuliskan kemungkinan spesies manusia akan berevolusi dan menjadi spesies koloni penghuni antar bintang pada alam semesta. Namun begitu, kalau saat ini, dengan norma dan kondisi konflik antar manusia sepertinya tidak mungkin(?)
Ya kita tidak tahu dalam ratusan/ribuan tahun lagi akan bagaimana perkembangan sains, seperti halnya revolusi ilmu pengetahuan 500 tahun silam telah membawa kita ke teknologi sekarang.
Kekaguman saya terhadap Carl Sagan
Saya bukanlah siswa yang pandai matematika dan fisika. Namun begitu, saya senang menonton tayangan berbau luar angkasa ,dalam koridor hanya untuk bersenang-senang saja. Carl Sagan adalah sosok Neil Grasse Tyson beberapa dekade lalu, seorang saintis – selebritis. Saya yakin yang menyimak ini sudah tau siapa beliau. Carl Sagan adalah contoh pakar yang mampu mengkomunikasikan sesuatu yang sangat ruwet menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk disimak oleh seorang awam seperti saya. Saya sempat googling (tautan sumber ada di bawah video ini), Carl Sagan ternyata merangkai kalimat-kalimat tersebut dengan berbicara di voice recorder, dan dibuat transkripnya oleh asisten beliau. Saya tuh teringat ada sebuah film judulnya ‘The Core’ di mana Stanley Tucci berperan sebagai saintis yang sedang eksplorasi kedalaman bumi tiba-tiba sok puitis a la Sagan dan diejek habis-habisan oleh pemeran lainnya.
Ilustrasi pada halaman 149 – 162 seperti intermezzo di tengah lautan tulisan. Kebetulan saya senang menonton grafis daripada membaca. Hal ini menarik dan membangkitkan minat . Tapi menurut saya kurang banyak gambarnya.
Bagaimana ya respon Carl Sagan ketika tahu ada Elon Musk dengan perusahaan swasta Space-X nya, ada Yuzaku Maezawa seorang entrepreneur eksentrik semacam kelebihan uang (ia bahkan mengoleksi lukisan Jean Baptiste Basquiat?) numpang hidup di ISS (naik roket, soyuz bersama astronot lainnya), dan adanya turisme luar angkasa? Padahal di buku ini Sagan juga membahas prioritas eksplorasi luar angkasa adalah misi yang mulia di tengah berbagai permasalahan di bumi ini. Berapa energi dan jejak karbon untuk para triliuner ini bersenang-senang atau experiencing space tourism?
Saya rasa Sagan agaknya tahu tentang kemungkinan yang terjadi pada masa mendatang. Mars Rovers sudah ditulis dengan apik di buku ini, sekaligus virtual reality kondisi mars dengan manusia di bumi saat ini. Maka dari itu, mungkin Sagan juga akan memaklumi jika seorang Chris Hadfield merekam video musik di ISS dan menjadi viral di youtube dengan 25 juta views. Wkwk.
Di rentang usia manusia yang hanya beberapa dekade ini, sebagai medioker yang hidup di atas bumi di bawah ruang vacuum outer space, saya merasa senang bisa berkesempatan membaca Pale Blue Dot.
Dan sebagai spesies yang rata-rata hidup dalam beberapa dekade saja, selanjutnya saya ingin membaca buku tentang bagaimana kita menjalani hidup yang sangat sementara ini.
Transkrip ini saya ketik saat perjalanan dari Jogja ke Jakarta, sembari melihat pemandangan alam yang luas.
Terima kasih telah menyimak (Positive thinking kayak ada yang menyimak sampai akhir aja, wkwk). Wassalamualaikum wr.wb, Salam sejahtera bagi kita semua.
3 Januari 2022
Leave a Reply